I capture what inspires human soul. My entire world lies in photography, my happiness, my sadness, my love, my life & my each and every emotion I experience

Mengenal Type Lensa Camera



Nikkor 18-135 ED DX: Personal Review.

Lensa all-rounder yang diminati banyak orang. Merupakan lensa KIT beberapa produk
Nikon, tapi yang menjadi pertanyaan - why 18-135? Begitu banyak third party yang
menawarkan 18-200 yang notabene harganya tidak berbeda jauh, dan focal length yang
lebih panjang.
So - again, why Nikkor 18-135?
Jawabannya cukup mudah: Sharpness and quality.
Nikkor 18-135 ini lensa yang sangat tajam. Kalau saya pernah bilang 18-55 Gen II sudah lebih tajam daripada 18-70 Nikkor, maka lensa ini lebih tajam lagi daripada kedua lensa tersebut. Tentunya ini sekali lagi adalah hasil yang saya rasakan - mungkin berbeda untuk anda.

Lensa ini di buat dengan sangat baik, dengan body yang kokoh, rubber ring zoom dan
focus yang cukup besar, membuatnya sangat mudah di kendalikan. Tentunya dengan
berat yang pas dan juga elemen lensa yang baik (ED Glass), lensa ini boleh di bilang
salah satu lensa yang "murah" dengan kualitas "mahal". Satu2nya kendala dan menjadi
sebuah pertanyaan adalah window / distance scale nya. Nikkor memberikan window
scaling pada 18-70, namun tidak pada lensa "KIT" versi baru, 18-55 ataupun 18-135.
Sebenarnya kalau anda tidak terlalu sering pakai scaling ini tidak pengaruh - tapi - why
not? Sebuah tanda tanya kenapa tidak di pasangkan... apakah bisa mempengaruhi
harganya sampai sejauh itu? Well - that's not for me to answer. :)

Focal length pada lensa ini sudah cukup untuk hampir segala kebutuhan anda, dari
sehari2 sampai short - medium telephotography. Anda tidak perlu lagi pusing gonta ganti
lensa, karena hampir apapun - sampai portrature dapat anda gunakan lensa ini (tolong
jangan dibandingkan dengan lensa prime yang memang khusus untuk portraiture ya..). It's
a lens that makes you say, "I think it's enough, what more could I ask for?". :)
Harga: Sekitar 2,200,000 - 2,400,000 tergantung kondisi, garansi dan kelengkapannya
(biasanya banyak yang jual copotan 2nd), kalau barunya sekitar 2,600,000. Saya sih tidak

sarankan beli baru - tapi ya... preferensi lah).
What you get: Lensa, tutup depan dan belakang, dan hood.
Pros:
- Great focal length range, all in one deh. Cukup lebar, cukup jauh... gitu deh.
- Sharpness ya WOW banget. Buat semi-macro aja cukup tajam kok, jadi jangan ragu
deh. Kalau lensa anda kurang sharp, berarti ada focusing problem - bawa ke Alta buat di
kalibrasi. :)

- Build qualitynya very good, beratnya pas, bahannya bagus (walaupun plastik tapi

kesannya mahal).
- SWD lho - seperti biasa, lensa Nikkor emang udah kebanyakan SWD semua.
- Harganya tidak terlalu mahal untuk sebuah lensa Nikkor Glass dengan FL yang sangat
berguna.
- PF / Vignett / CA cukup terkontrol dengan baik, kecuali PF agak tinggi sih, tapi stop
down sedikit juga sudah ok. Tapi itu hanya terjadi pada kondisi yang cukup extrim. :)
- 135mm nya menghasilkan DOF yang cukup tipis dan bokeh yang cukup creamy lho!

Good for portraiture work apabila anda lupa bawa lensa fix ataupun ga punya. :)
- Front element tidak berputar! Cihuy!
- F nya bagus lho! 3.5-5.6.
- Bisa buat "macro"! :D
Cons:
- No distance scale (window ataupun scale biasa).
- Maunya sih 18-200 dengan harga sama dengan kualitas sama hahahaha.
- SWD bisa berisik kalo udah banyak debu... krinyittt...
- Harganya ga turun2... buat kita yang mau beli - ken mendingan murah harganya

huahahahaha.
- Filter threadnya 62mm - cukup ga umum ya...
- No macro mode! Sayang ya... tapi well, ketajamannya bisa cukup buat macro kok...
bener deh hehehe.

Secara keseluruhan, apabila anda mau membeli sebuah all-arounder, saya lebih
recommend lensa ini dibandingkan SigMA 18-200 ataupun Tamron 18-200, walaupun
dengan FL yang lebih panjang, namun kualitas hasil dari ketajaman, kontras, warna, dan
hampir segala aspeknya - sampai ke designnya pun, tidak sebagus 18-135. Harganya
mirip sekali, bahkan cuma selisih sekitar 100-200rb aja.

So, kalau mau all-rounder, jangan ragu - saran saya coba ini dan anda tidak mungkin
kecewa.
Kecuali! Anda benar2 butuh sampai 200, dan anda benar2 mau macro 1:2 yang di
tawarkan oleh SiGMA dan Tamron, bila tidak - this is your lens!

Nikkor 18-55G DX VR: Personal Review.

Udah lama nih saya ga bikin review… maklum, lagi agak ga sempat, dan dana juga
terbatas banget nih dalam hal beli2 lensa hehehe. Tapi kemarin ini saya sempat beli 18-
55G DX VR Nikkor. Semua lensa yang pernah saya tanyakan – worthed ga sih beli lensa
VR di normal zoom range?

Sebenarnya banyak pertimbangannya ya, antara worthed atau tidaknya beli lensa ini.
Pertama2, normal zoom range kita gunakan banyak untuk meliput acara, dan biasanya,
pada liputan acara, anda jarang menggunakan F bukaan besar, karena DOF akan menjadi
tipis. Selama ini Tamron 17-50/2.8 adalah sebuah pilihan yang popular untuk siapapun.
Namun, dengan dof di F/2.8 yang saya rasa cukup tipis, liputan cukup menjadi
menyulitkan. Lagipula, harganya ga murah loh, sekitar 3jt-an.

Kedua, normal zoom range biasanya anda tidak gunakan untuk keperluan lain, karena
untuk portrait, banyak lebih suka pada 50/1.8 yang murah meriah tapi beken, atau
sekalian pada lensa 80-200 F/2.8 yang memang terkenal yahud.
Ketiga, untuk WIDE, anda sudah pasti lebih gemar menggunakan lensa 12-24 dari Tamron atau sekalian 10-20 nya SiGMA. Yang memang terkenal tajam walaupun dibukaan terbesarnya.

So – apa alternatif kita para pengguna NORMAL range ini? Selama ini ya tidak ada, kalo
butuh speed cepat, harus pake ISO tinggi, dan bukaan gede, dan berdoa supaya acara
tersebut memperbolehkan kita menggunakan flash.

Nah yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana apabila anda ingin menggunakan
natural light yang ada (lilin, lampu hias yang warna warni, dsb), dengan DOF yang tidak
terlalu tipis (karena banyaknya objek foto muka orang yang tidak “rata”), serta normal
zoom range?
Yah, anda tentu saja anda bisa kembali si Tamron, 17-50/2.8, yang biasanya anda stop down ke F/4, dan berdoa supaya tangan ada sekokoh batu karang saat anda mengambil gambar di speed rendah.
Atau – anda bisa pakai 18-55 Nikkor VR yang baru keluar ini. Yang notabene, harganya
Cuma 1/2, nya.
Yuk – saya jabarkan sedikit.

Saat saya mendapatkan lensa ini, yang pasti dusnya sudah lebih keren, ada gabus
styrofoamnya (dibandingkan dulu Cuma karton ga jelas), di plastic dengan baik,
kardusnya juga ukurannya besar, ada bukunya, dan kartu garansi. Begitu saya keluarkan,
bahannya juga sudah berbeda! Sudah ada crinkled mattenya, jadi keliatan seperti “besi”,
tidak mulus licin seperti yang dulu. Tetap ada cincin perak kerennya, tetap ada logo
Nikonnya, dan ada tombol tambahan VR ON/OFF. Satu lagi yang saya perhatikan,
putaran zoom lebih pendek sepertinya, mungkin sedikit, jadi bisa lebih cepat tuh AF nya.
Oh iya, ini udah AF-S loh. Inner barrelnya juga berubah, dulu di front ring filter
threadnya, diameternya lebih lebar sedikit dibandingkan dengan inner barrel yang keluar
masuk ke dalam lensa, sekarang sama rata. Mungkin karena ada mekanisme VR nya yang
membutuhkan ruang gerak lebih. AF nya masih sama berputar, jadi yang pake CPL harus
repot dikit. Mounting masih plastic hitam (ga masalah, lensanya uenteng, jangan takut
copot karena mountingnya plastic).

Tentunya setelah itu, saya coba pakai donk! Pas di pasang, hampir tidak ada perbedaan
dengan versi2 sebelumnya, click dengan baik, AF-S cepat dan handal, namun VRnya
sedikit berisik. Mungkin bunyinya ga sampe keletek kelontang, tapi minimal anda pasti
akan menyadarinya apabila VR nya sedang bekerja.
Ternyata, setelah saya tes sana sini, VR WORKS! It works so great, that it makes every other normal zoom lens, menurut saya, go down the drain. Dan, yang saya cukup kaget, lensa ini memberikan kesan dimensi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan versi2 sebelumnya. Entah bagaimana, foto yang saya ambil (IMHO), kesannya lebih 3-D deh dibandingkan dengan versi2 sebelumnya. Biasanya saya ga pernah merasakan kehadiran ini pada lensa2 versi murahnya Nikon.
Selanjutnya, saya akan biarkan foto2 dibawah bicara.

Price: 1,600,000 (Alta NEW).
What you get: Lensa, tutup depan belakang (belakangnya putih susu), box, kartu garansi
dan buku. Sorry guys, no hood. Hoodnya juga percuma sih, kecil, ga guna buat ngalangin
apa2.

Ayo pros and consnya…
Pros:
- Very lightweight, portable banget. Pokoknya kalo punya ni lensa mendingan dibawa

kemana-mana deh, enteng banget.
- VR REALLY WORKS!
- Nice finishing, looks “expensive”. Improvement kosmetik yang luar biasa dibandingkan

versi sebelumnya.
- Less AF turn radius (which could mean faster AF).
- ED glasses to minimize flare ghosting and blab la bla.
- Very sharp in it’s class.
- Somehow ada efek dimensinya. IMHO.
- Harganya sangat terjangkau!

Cons:
- Front filter threadnya masih muter – so CPL sorry.
- Andaikan IF, pasti keren!
- Ga include hood – walaupun ga terlalu kepakai, it would be great to have, just in case.
- Mountnya plastic (bagi saya sih ga masalah).
- I don’t think theres anything else.
Postingan pertama (kiri ke kanan).
Foto 1: 55mm, 1/3 Sec, VR ON, ISO 1600.
Foto 2: Same, VR OFF.
Foto 3: Same, VR OFF.
Postingan kedua (kiri ke kanan).
Foto 4: 55mm, 0.625 (2/3) sec, VR ON ISO 800
Foto 5: Same, VR OFF
Foto 6: Same, VR OFF
Semua gambar di ambil dengan Nikon D50, setting standard, tidak melalui post pro,
100% crop out of camera, dan F/5.6.

In conclusion? Saatnya anda jual 18-55 versi I, 18-55 versi II, 18-70, 18-135, 17-50
Tamron, 17-70 Sigma, dan semua lensa normal zoom anda. Dan beli lensa ini! It rocks.
Seriously.
Definitely recommended.

Nikkor 85mm F/1.8 D: Personal Review.
My favorite lens.
Nah ini salah satu lensa fix yang sangat bagus sekali. Pertama saya melihat lensa ini adalah: Wah 1.8 ya - ada 1.4 nya... pasti bagusan 1.4nya (saya menganggap 85/1.8 itu biasa2 aja dan "kelasnya" seperti 50/1.8 yang murah meriah itu).

Tapi setelah saya coba - saya sangat salah sekali. Dari hasil, ketajaman, warna, bokeh dsb
- lensa ini adalah sebuah lensa yang dahsyat. Tentu tetap lebih bagus lensa 85/1.4, tapi
85/1.8 ini adalah lensa yang sangat wow sekali. Kalau anda hobi portraiture dan tidak
ingin beli yang terlalu mahal - jangan melihat kemana mana lagi, 85/1.8 lah pilihan anda!

Build qualitynya bagus banget, dengan hood metal yang didapat saat anda beli, aperture
blade 9 yang rounded, DOF yang tipis, F yang besar, dan coating yang sangat bagus,
lensa ini bener2 dedicated portraiture lens. Setelah saya menggunakannya, saya tidak
pernah berpikir untuk beli lensa lain, kecuali lensa 85/1.4 yang notabene harganya 3x
lipat... rasanya agak males juga sih hehehe.

Harga: Barunya sekitar 3,900,000 garansi resmi, sekitar 3,500,000 garansi S'pore.
Secondnya bervariasi, dari 2,500,000 sampai 3,000,000 tergantung kondisi garansi dan
lainnya.

What you get: Lensa, tutup depan belakang, dan hood metal.
Pros:
- Wide aperture lens! 1.8 lho.
- Harga yang relatif terjangkau dengan spesifikasi lensa yang baik banget.
- Aperture blade 9 (rounded).
- Body sangat kokoh dengan berat yang mantab.
- Lensa yang tajam, distorsi yang tidak ada, vignett ataupun PF yang sangat sedikit. (Ciri

khas prime lens).
- DOF nya tipis sekali, sangat cocok untuk portraiture photography.
- Great for indoors and low-light.
- Focusnya cepat.
- Ada aperture ringnya lho!
- Yah - pokoknya lensa pilihan saya deh.
Cons:
- Belum SWD, jadi lebih berisik (saya sih no problem, lebih suka suara AF yang begini

dibandingkan SWD yang kalo udah ada debunya krinyit2).
- Tidak ada MF/AF switch.
- Kadang PF bisa terjadi di kondisi extrim.
- Hoodnya menyulitkan kalau anda mau pasang tutupnya dengan hoodnya terpasang.
- Bahannya masih plastik gitu - harusnya lebih banyak metal.
- Ring focusnya modelnya jelek - harusnya dibuat lebih classy sedikit.
- Kadang FL terlalu panjang kalau buat indoor.

Overall, a highly recommended portraiture lens. Hampir semua orang yang suka
portraiture, biasanya pasti suka lensa ini. Saya sih udah ga bisa ngomong apa2 lagi deh,
saya sampai sekarang masih pake dan ga pernah pikir mau ganti kemana-mana. :)
Nikkor 50mm F/1.8 Non-D: Personal Review.
Nah ini dia nih, salah satu lensa yang boleh dijadikan favorit apabila anda menggunakan
Nikon F-Mount. :).
Lensa ini boleh dibilang termasuk murah meriah dengan kualitas sebuah prime yang
boleh di bilang hampir sempurna (tidak ada yang sempurna lhooo...).

Perhatikan bahwa REVIEW SAYA ADALAH VERSI NON-D, yang artinya, lensa ini
adalah lensa generasi pertama, masih Made In Japan, dan sudah banyak perbedaan
dibandingkan dengan lensa keluaran yang baru. Salah satu yang bisa diperhatikan dengan
mudah perbedaannya adalah, tidak adanya distance scale window pada versi baru, juga
material versi baru lebih doff bahannya, dan kesannya tidak "sebagus" versi lama ini
builtnya. Namun saya tidak akan membahas terlalu jauh - berhubung saya tidak punya
versi barunya.

Lensa ini adalah great portraiture lens - baik untuk indoor ataupun outdoor. Namun
aperture blade yang hanya 7 buah membuat bokeh kurang creamy bila dibandingkan
dengan lensa yang memiliki 9 blade atau rounded blade. Tapi bukan berarti bokehnya
tidak bagus - bagus kok - tapi seharusnya bisa lebih bagus lagi. Harga lensa ini juga
termasuk dalam kategori murah meriah dan SANGAT PANTAS DIMILIKI VERSI
BARU ATAUPUN LAMA NYA. Perhatiakan saya sampai capslock - artinya kalau anda main dSLR - jangan sampai ga punya nih lensa deh - pasti butuh kok. :D. Kecuali anda adalah PURE NATURE atau PURE WILDLIFE, jadi ga pernah moto orang ya baru deh lensa ini percuma.

Lensa ini sangat ringan, dan compact sekali, sehingga mudah di bawa bawa dan hampir
tidak terasa menambah berat kamera anda. Dengan elemen lensa terdepan agak cekung di
dalam juga memberikan extra proteksi terhadap goresan, atau sentuhan, ataupun segala
macam kendala lain yang mungkin dapat merusak lensa secara tidak sengaja.

Apabila anda ingin memiliki lensa portraiture - maka lensa ini adalah pilihan anda yang
tidak mungkin salah. Kenapa saya bisa bilang begitu? Tentunya karena hasilnya yang
tajam (ciri khas lensa prime), built qualitynya bagus (yang versi lama lho ya), ringan dan
compact, dan kalau di jual pun anda tidak akan rugi - apalagi kalo belinya second.
Minimal jual dengan harga anda beli lho. :)

Harga: Versi lama (sudah tidak ada yang baru), sekitar Rp. 1,200,000 s/d 1,500,000
tergantung dari kondisi dan kelengkapan. Versi baru Rp. 1,050,000 sudah garansi Alta.
Second sekitar 900rb-an.
What you get: Lensa dan tutup depan belakang - biasa. :) No hood.

Pros and Cons.
Pros:
- Wooo hooo - lensa prime dengan hasil yang tajam banget harga murah meriah? Ow
yeah! Kapan lagi... :D
- Ukuran yang ringan dan kecil membuat lensa ini setia sepanjang masa untuk masuk ke tas kamera anda atau bahkan ke saku anda! :D. You'll never know when you'll need it, but you can make sure it's always around! Hehehe.

- Elemen lensa depan tenggelam di dalam - jadi kalau bagian depan lensa terbentur juga
ga akan merusak elemen lensanya (kecuali benturannya kenceng banget). Jadi jangan
takut kalau sampai tutupnya ternyata lepas di dalem kantong - lensa anda tidak akan
lecet2. :D
- Ada window scalingnya lho! Kalo yang baru ada distance scalenya juga, tapi versi nya
bukan yang window - yang window lebih keren aja. :P
- Bokeh bagus, no vignett, no distortion, typical prime portrait lens lah. What more could

you ask for?
- PF kadang ada, tapi minim banget, kalo di stop down dikit aja udah byebye kok.
- Mount metal! Coba, bagi kalian yang hobi mount metal - lensa ini harga seperti lensa

kit, tapi udah mountnya metal pula! (Kalo versi baru kayaknya plastik).
- Yah pokoknya bagus banget deh.
Cons:
- Aperture bladenya kurang rounded - atau setidaknya kalau ga mau rounded, ya banyakin

dikit deh, 8 blade pasti jauh lebih bagus bokehnya!
- Susah di cari.
- No hood waktu beli, jadi harus beli hood terpisah.
- AF motornya berisik sih dan mungkin agak lambat karena putaran focusnya lebih jauh
di bandingkan dengan yang baru.
- Karena barangnya bagus, harga secondnnya tinggi, dan bahkan barang barunya sering

kosong di pasaran. Jadi harus siap2 mental :D.
- Kurang gagah modelnya. :)
- Non-D, artinya metering untuk flash ada kemungkinan ngaco, tapi saya pribadi merasa

tidak ada bedanya antara lensa D ataupun non-D.
Conclusion: BUY THE LENS! You can never go wrong deh hehehehe. :D
Kalo pun salah, ya jual lagi aja, harganya ga beda kok... itung2 minjem pake jaminan
hahahaha.
Tamron 28-75 F/2.8 XR Di LD Macro IF: Personal Review.

Yup, akhirnya saya coba sendiri Tamron 28-75/2.8 ini, dari dulu pensaran nanya sana sini,
akhirnya saya beli juga deh abis ga tahan huehehehe. Tuker2an sih sebenarnya - ga
mampu kalo beli terus.

Anyway, mari langsung ke pokoknya. :D
Dari pertama dengar, Tamron ini namanya puanjang banget. XR (Extra Refractive Glass -
menghasilkan gambar yang oke banget dengan lensa lebih compact), lalu Di (Digitally
Integrated - artinya di design untuk Digital), LD (Low Dispersion lensa, artinya elemen
lensa bagus untuk mengurangi dampak CA / PF), Macro - ya macro lahh..., IF (Internal
Focus).
Banyak banget deh tetek bengeknya.

Lensa ini begitu saya dapat kesan pertama nya "Loh? kok kecil ya?". Tentunya ukuran
untuk Fix Stop F/2.8 lensa ini ukurannya paling kecil di kelasnya. Kalau anda
bandingkan dengan Canon 24-70, Sigma 24-70, Nikkor 24-70, semuanya cukup jauh
lebih besar daripada lensa ini. Tapi tetap modelnya kurang oke ya, simple aja, ga ada
kesan mahalnya. Bahkan menurut saya kelihatan "murah" untuk lensa sekelasnya. Tidak
ada window scale (yang lain semuanya ada), terus, tidak ada cincin emas / merah / perak
yang menambah kesan mahal.

Tapi setelah saya pakai, barulah saya merasakan, woww... ternyata, hasilnya sangat
sangat memuaskan sekali. Ketajamnnya sangat mencengangkan (setidaknya bagi saya).
Focusing walaupun tidak USM / SWM / HSM, tetap cepat dan cukup tidak berisik. Dan
tentunya dengan segala kekurangannya menjadikan kelebihannya juga. Lensa galak
dengan harga paling murah di kelasnya.

Andaikan saya tidak coba sendiri, saya tidak akan percaya dengan hasil yang saya
dapatkan dengan lensa ini. Walaupun blade hanya 7, dan tidak terlihat terlalu rounded,
hasil bokehnya kok bisa bulet2 ya...? Bingung juga saya. Anyway, hasilnya sangat tidak
mengecewakan. Macro nya pun cukup okey, walaupun saya tidak akan bilang dia adalah
sepenuhnya sebuah macro, karena tidak ada switch khusus dan juga perbandingannya
hanya 1:3.9.
Price: 3,300,000 (baru). Second masih sekitar 2.8-2.9 tergantung kondisi. (Garansi Ana
Foto).
What you get: Hood, lensa, lens cap depan dan belakang. Sayang ga dapet pouchnya -

yah namanya juga mau murah, ini itu dikurangi deh.
Pros:
- Extremely sharp lens - even wide open loh!
- Flarenya (Di LD glass coating) sangat minim sekali bila dibandingkan dengan lensa lain

- benar2 efektif si Tamron ini.
- XR glass - ukuran bisa jadi kecillll, jadi ga berat dey.
- Bokeh halus, F/2.8 Fix stop, low light oke, portrait oke, FL juga pas buat portraiture dan

day to day basis.
- Focus cepat, dan tidak terlalu berisik meskipun bukan ultrasonic.
- Harga termurah untuk kelasnya.
- Designnya enak di operasikan (bukan bagus - tapi efektif, dengan zoom ring yang lebar
dan focus ring yang cukup lebar juga).
- A great lens to have!

- Close focus range (0.33m).
Cons:
- Designnya ueyy... cemen.
- Tidak ada window scale, no HSM / SWM / SWD, whatever lah.
- Kelengkapan saat beli tidak seperti pesaingnya. Ga dapet pouch...
- No macro lock / focus lock untuk macro.
- Ga weatherproof, jadi agak ngeri sama debu. Canon/Nikon kalo ga salah ada rubber

sealingnya.
- Andaikan saja F nya bisa 2.4 hahahahaha.
- Dengan segala kekurangannya - harusnya harga lebih murah sedikit lagi.

Conclusion - A great lens - bagi saya yang suka portraiture, a must have. Dengan close
focus range, lensa ini bisa di pakai di indoor ataupun outdoor dengan sangat baik sekali. I
think I don't have anything else to say - just buy it! I did. :P
Nikkor 105mm F/2.5 MF - Ai: Personal Review.
Nah lensa tua - pastinya banyak yang mempertanyakan "layakkah" kita kembali ke lensa 'jadul' hanya sekadar untuk mendapatkan keuntungannya? Seberapa bagusnya sih lensa jadul itu? Dengan lensa ini, saya akan mencoba menjelaskan sedikit pengalaman saya dengan lensa si jadul ini... hehehe.

Lensa ini pastinya berat, semuanya terbuat dari logam, dan semuanya sangat presisi.
Tidak ada bagian dari lensa yang goyang2, atau ogel2 gak jelas. Semuanya terasa mantap,
walaupun untuk sebuah lensa yang sudah berumur ya. Belum lagi dengan focus ringnya,
yang masih terasa sangat "smooth" walaupun sudah melewati beberapa jaman. :D

Ketajamannya? OH WOW, saya sangat tercengang sekali. Lensa ini sangat tajam di wide
open, walaupun warna dan kontras tetap akan menjadi lebih baik di stop down, tapi di
wide open hasilnya sangat sangat TIDAK mengecewakan. Saya salut sekali dengan lensa
ini. Dengan Focal Length 105mm, yang sangat baik untuk outdoor portrait, atau indoor
kalau keadaan memungkinkan, bokeh yang di hasilkan sangat creamy dan indah di lihat.
:D
Lensa ini termasuk cukup langka, terutama yang dalam kondisi bagus. Ada versi barunya, yang Ai-S, bedanya hanya dia ada built-in hoodnya, tapi yah - apalah arti sebuah build in hood - ga kepake juga, hoodnya cuman 1 cm doank (mau ngalangin sinar apaan coba?).
Harga: Bervariasi, second, antara 800rb - 1.2jt.

What you get: Yah minimal lensanya, sukur2 dapet hoodnya.
Pros:
- VERY SHARP.
- Great build material, precise manufacturing, pokoknya buildnya jauh lebih bagus

daripada lensa2 jaman sekarang.
- Bokehnya indah.
- 105mm F/2.5 - dengan harga murah? Ya kapan lagi...
- Walaupun cukup berat untuk lensa sekelasnya, tapi dia tidak berat2 amat kok.
- Colour dan kontrasnya bagus di wide open (better if stopped down - ya iya lah ya...).
- Not much trouble with PF and CA. :)
Cons:
- Ya lensanya manual focus - harus bisa makenya, kalo ga misfocus melulu dan hasilnya
blur.

- Langka - susah cari yang kondisinya bagus.
- Kalau anda tidak suka lensa berat, ya ini cukup berat.
- Uh - kayaknya sedikit sekali bagi saya Cons nya..

So - if you have the time to learn MF, dan pengen hasil yang wah tanpa bikin kantong
jebol - saya sarankan coba cari lensa2 tua yang MF (tapi jangan maen beli aja, harus di
lihat dulu, apakah lensa itu benar2 di top class nya Nikkor tua). Dan harganya juga
biasanya tidak terlalu mahal, yang pasti, kalau anda jual lagi, biasanya ga rugi, kalopun
rugi ya dikit banget deh, sukur2 untung :p.



Nikkor AF 70-210mm F/4: Personal Review.

Kebetulan saya “berpapasan” dengan salah satu lensa yang cukup jarang di temukan di
jajaran lensa Nikon. 70-210 F/4. Mungkin bagi para pengguna Canon, 70-200 F4L adalah
sesuatu yang lumrah dan menjadi favorit bagi banyak fotografer. Selain lebih ringan,
lebih kecil, hasil yang memuaskan, tentunya tidak bikin kantong bolong. Nah, mungkin
banyak yang bertanya – tanya, kalau begitu, Nikon kenapa gak bikin 70-200 F/4 AF-D
aja? Saya sendiri pun sebenarnya heran, dengan banyaknya versi 80-200 F/2.8 AF-D, AF-
D ED, AF-D ED (N), sampai AF-S, dan juga 70-200 F/2.8 AF-S VR, tapi tetap tidak ada
yang F/4 tuh (setidaknya tidak ada yang versi baru). Maka, lensa versi “kuno” ini,
menjadi salah satu incaran bagi banyak fotografer dengan budget minim, ataupun
memang “gak butuh” F/2.8. :D

Saya sangat beruntung mendapatkan lensa ini dalam kondisi fisik yang boleh di bilang
sangat baik, walaupun adanya beberapa jamur di lensa bagian dalam, tapi ternyata tidak
berpengaruh sama sekali dengan hasil (bisa dilihat di hasil foto saya dan di crop 100%).
Kesan pertama saya adalah lensa ini ternyata memang jauh lebih ringan dibandingkan
dengan 80-200 F/2.8. Bahkan, saya berani bilang, beratnya mungkin hanya ½ nya aja tuh.
Buildnya kokoh, sepertinya hampir 90% dari besi, dan masih MADE IN JAPAN (bagi
para fanatik, tentunya sangat membahagiakan). Filter thread 62mm, adanya window
Scale, zoom ring yang besar, aperture ring, dan juga focus ring, lensa ini sih boleh di
bilang sangat lengkap. Cuma ya, memang tidak AF-S dan tidak ada VR aja.. kalo ada, ya
atuh harganya jadi mahal donks!
Anyway, saat saya menjajal lensa tersebut, ada “keanehan”, dimana focus di infinity tidak mau lock. Jadi gambarnya buram, walaupun sudah mentok di infinity, saya pikir wah ini masalah donk lensanya. TERNYATA, lensa tersebut elemen depannya bisa di putar (entah ini normal atau tidak), bukan focus ringnya loh, tapi elemen depannya. Jadi apabila anda pegang filter threadnya, anda bisa putar lensa elemen depan tersebut, tanpa melepasnya. So, I have no idea ini gunanya apa, tapi ya sekedar berbagi informasi. Apabila anda putar kembali sampai “kencang/mengunci”, maka focus di infinity tidak menjadi masalah lagi. Lensa ini juga bisa focus di jarak yang sangat dekat, dengan indicator-----M (Mungkin maksudnya Macro?). Walaupun bagi saya ini hasilnya jauh dari macro, tapi sangat lebih baik dibandingkan banyak lensa zoom lainnya, tentunya hasilnya sangat tajam (silahkan di lihat dari hasil yang saya crop – debu aja kelihatan, dan itu pun di wide open loh!).

Harga: Sekitar 1,000,000 – 2,000,000 (tergantung sikon).
What you get: Namanya juga lensa second yang udah ga ada barunya, biasanya sih body
dan lensa cap aja.
Mari kita bahas pro dan kontra:
Pros:

- Harganya sangat murah, dibandingkan dengan lensa F-fix stop lainnya, terutama untuk

kelas F4L Canon, hasil boleh di adu, harga udah pasti menang huehehe.
- Zoom ringnya besar, jadi enak buat zoom in dan zoom out.
- Kualitas gambar di wide open SANGAT tajam – mencengangkan. Lensa jadul emang

yahud.
- Ada window scale.
- Bisa “macro”, bahkan si Kenrockwell bilang ini satu2nya lensa zoom Nikon Non-

Macro untuk FL antara 70-200 yang bisa zoom sedekat itu,
- Ada aperture ringnya, dan bisa di stop down sampai F32 (mana tau ada yang butuh).
- Tajam banget deh, walaupun di wide open.
- Internal zoom, jadi panjang lensa tidak berubah saat anda ngezoom.
- Masih Made In Japan (Hurrraaayyy!).
- Modelnya menurut saya sangat “sleek”.
- Memberikan kesan “keren” karena punya barang “langka” huehehehe.

Cons:
- Ampun focus ringnya kecil dan tipis amittt…
- AF nya agak lamban bagi saya, tapi ya saya sih ga butuh buru2 kok heheh.
- No AF Limiter, jadi lari ke “macro” mode tuh, bikin focus lama.
- Gak IF (cupu)..
- Jeleknya lagi, Focusnya ring depannya muter.. (halah basi).
- Aperture locknya flimsy banget, rawan patah.
- Namanya lensa zoom panjang dan dari besi, walaupun ringan dibandingkan kakaknya,
tetep aja berat huehehehe.
- Dengernya sih rawan flaring, jadi harus pakai hood, tapi sejauh ini saya tidak ada
masalah dengan flare tuh, atau mungkin saya yang dodol.
Overall – memang ini lensa zoom yang saya dambakan. Fix stop di F/4, harga murah,
build kokoh dan elemen lensa yang top quality, menjadikan lensa ini sebuah “fenomena”
yang juga membuahkan banyak pertanyaan – kenapa sih Nikon tidak meneruskan lensa
“ekonomis” ini? Padahal, peminatnya banyak kok, apalagi untuk mereka yang gak suka
push pull (dengernya pushpull sering bocor dan mengakibatkan lensa fogging). Anyway,
saya sangat recommend lensa ini bagi siapa pun yang membutuhkan lensa zoom panjang,
dengan Fix F/4 stop. Apalagi harganya murah begitu, daripada beli 55-200 versi baru, ya
mendingan beli ini kemana-mana deh.


Tamron 17-50mm F/2.8 XR (IF): Personal Review.

Kesempatan nyicip lensa ini sebentar, dan saya akan mencoba menceritakan sedikit
bagaimana kesan saya terhadap lensa ini. Pertama mendapatkannya, lensa tersebut
memang ukurannya cukup kecil, ringan dan compact untuk di bawa-bawa. Berhubung
Tamron sepertinya sukses dengan teknologi XR (Extra Refractive) nya, sehingga bisa
memperkecil ukuran lensa tanpa mengorbankan kualitas (at least katanya begitu hehehe).
Anyway, size does matter, kadang anda kalau bepergian, bawa lensa guede dan buerat, rasanya males ya... saya sih rasanya males banget. Lensa seukuran Tamron ini cukup "PAS" rasanya buat jalan2. A great general purpose lens, dengan bukaan fix F/2.8, rasanya sudah cukup oke sekali dipakai hampir di segala kondisi ya. :)

Rasanya anda cukup membawa 2 buah lensa saja, 17-50/2.8 dan mungkin 80-200/2.8
bagi anda yang suka tele. Kalau saya sih lebih suka kombinasi 17-50/2.8 dan 50/1.8 atau
85/1.8. Sehingga general purposenya dapet semua, dan kalau butuh portrait ada lensa fix
yang bisa mendptkan gambar yang bagus dengan DOF tipis.

Lensa pemenang EISA award ini memang bukan lensa sembarangan, lensanya tajam,
kualitas kaca bagus, PF dan CA sangat rendah, dan lagi harganya sangat kompetitif.
Mengingat kembali ke kualitas "body" Tamron - yang saya tetap merasa "cheap", dan
bener2 tidak di design dengan keren, sangat di sayangkan. Padahal lensa sekaliber ini
berhak mendapatkan "fashion statement" yang lebih baik dari yang ada. Tidak adanya
window scale dan beberapa pernak pernik kecil lainnya tidak terlalu membuatnya jelek,
tapi setidaknya, tetap jelek keliatannya bagi saya huehehehe. :D

Namun, kalau saya memerlukan sebuah lensa wide-medium general purpose, Tamron 17-
50/2.8 ini akan menjadi pilihan pertama saya. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, dengan
mengingat harga, kualitas build, kualitas gambar dan segala lainnya, Tamron
memenangkan banyak kategori.. :). Satu2nya yang membuat nya bersaing di pasaran
adalah SiGMA 18-50/2.8, tapi saya percaya (IMHO), Tamron lebih bagus kualitasnya.
Namun sebelum saya mendapatkan / mencoba Sigma tersebut, saya tidak mau mengambil
banyak kesimpulan. :)
What you get: Lens, hood, and uh that's it.

Price: Barunya sekitar 3,400,000. Coba cari second aja. :)
Pros:
- Very compact and lightweight.
- Rangenya pas untuk everyday use.
- Fix stop 2.8 loh!
- Buildnya kokoh dan baik.
- Hasilnya sangat baik, CA rendah, PF rendah, dan lainnya.
- Tamron ini terkenal dengan ketajamannya.
- Bisa close focus (bukan macro tapinya ya).
- Harganya murah untuk lensa se kaliber dia.

Cons:
- Build designnya juelek.
- Tidak weatherproof atau hurt proof. LD
- Tidak dapat aksesoris lain (seperti pouch misalnya).
- Tidak ada window scale dan pernak pernik lainnya.
- Tidak menawarkan accessories tambahan. :D
- No macro function.
- Apalagi ya, rasanya semuanya Cons nya sih minor sekali.

Anyway, conclusion saya, kalau anda mencari general purpose day to day lens with F/2.8
Fixed aperture dengan budget yang mepet, this is your lens. Look no further. Yang lain
cuma antara lebih mahal tapi lebih bagus, atau lebih mahal dan lebih jelek, atau lebih
murah dan lebih jelek. This is your best pick! :D


Nikkor 70-300mm VR: Personal Review

Kemarin ini sempat nyobain nih, kebetulan teman ada yang punya dan saya diberikan
kesempatan untuk nyicip salah satu lensa yang marak di pasar. First impression pada
lensa ini adalah lensa yang kokoh, namun tidak terlalu berat, dan tidak banyak gadgetry
nya untuk sebuah lensa yang boleh dibilang “semi-pro†. Design terlihat sangat
simple, dengan finish yang baik. Namun, terus terang lensa ini kurang terlihat
“mahal†, padahal dengan price-tag yang sudah dalam jutaan, ada baiknya tampilan
terlihat lebih “keren†. Namun itu hanya opini pribadi, mungkin akan ada orang
yang lebih suka tampilannya yang simple dan tidak mencolok, namun kalau saya – kalo
lensa udah harganya mahal – ya sekalian tampilannya mahal donk – minimal kalo
hasil fotonya jelek – kalo lagi hunting, di foto, kan kelihatan keren lensanya
huahahaha. Lepas dari segi fashionnya, lensa tersebut sangat nyaman di pegang, beratnya
pas, panjang juga cukup untuk membiarkan anda menggenggamnya dengan baik. Zoom
ring yang sangat lebar dan besar memberikan anda keleluasaan saat anda zoom-in or out
(bahkan cukup lebar untuk anda genggam dengan seluruh telapak tangan anda). Namun
focus ringnya sangat mengecewakan, designnya terlalu dekat ke mounting, dan juga kecil
sekali (mungkin hanya 1cm tebalnya). Sehingga menyulitkan bagi orang yang mau
menggunakan MF, atau mau adanya fine adjustment dari AF. Mungkin designer Nikon
berpikir “Ah siapa juga yang mau pake MF nya di lensa VR ini†pada saat mereka
memutuskan untuk memberikan Focus Ring yang kecil itu. Hasil lensa tentunya tajam,
dan baik, namun ciri khas dari lensa VR hasilnya memang cenderung soft dibandingkan
dengan lensa non-VR. Namun keunggulannya tentu pada VR stabilizationnya yang
memudahkan anda untuk mengambil gambar pada slow shutter speed atau pencahayaan
rendah.
Price: Rp. 5,300,000. (New, garansi Alta).

What you get: Lensanya, tutup depan belakang, hood, dan pouch.
Mari kita ke pros and cons:
Pros:
- Lensanya ringan untuk kelasnya, tidak berat seperti yang anda bayangkan.
- VR Works! Bisa 4 stop loh katanya.
- Harganya relatif terjangkau untuk lensa tele dengan VR.
- Buildnya kokoh (walaupun tidak fashionable menurut saya.
- Hasilnya baik.
- Lensa ini lengkap paketnya, dapet ini itu, juga ada distance scale, dll.
- Anda bisa mulai melupakan kebiasaan anda membawa tripod kemana-mana hehe.
- Zoom ringnya lebar banget, sangat nyaman saat zoom.
Cons:
- Harganya agak jauh dibandingkan dengan 55-200 VR (Namun tentunya kualitasnya

lebih baik).
- Focus ringnya terkesan di design untuk anak SD yang tangannya masih kecil.
- Menghabiskan baterai kamera anda.
- Hasilnya tidak setajam lensa non-VR pada umumnya (hanya gambaran secara

keseluruhan).
- Designnya kurang eye-catching.
- Di posisi 300mm, dia sudah F/5.6, dan itu AF sudah mulai sulit. Berhubung min
working aperture untuk AF cepat dan akurat dari lensa adalah 5.6, jadi dia sudah di
minimal dan AF mulai hunting.
- Setau saya sih gak bisa buat macro (coba bandingkan dengan Tamron dan Sigma yang
bisa 1:2).

Conclusion: Not extraordinary, but a great lens to have, apalagi kalau anda suka tele,
karena disanalah VR paling dibutuhkan. Ditambah lagi dengan situasi lowlight, VR akan
menyelamatkan hidup anda! Huehehehe. Tapi – apabila anda tidak memerlukan focal
length sampai dengan 300mm, mungkin ada baiknya anda beli 55-200VR yang harganya
hanya setengahnya loh!


Tokina 50-135 F/2.8 AT-X 535 Pro DX: Personal Review.
Akhirnya, saya dapat juga nih lensa ini. Sebenarnya dari dulu, saya sudah sangat tertarik
dengan lensa yang mempunyai Focal Length seperti ini. Karena bisa buat indoor dan
outdoor sekaligus, ukuran yang tidak sebesar 70-200 pada umumnya, dan mempunyai
kualitas hasil yang tentunya tidak meragukan.

Awalnya pertimbangan saya ada pada beberapa jenis lensa… yaitu SiGMA 50-150
F/2.8, SiGMA 70-200 F/2.8, Nikkor 80-200 F/2.8 D. Mengingat FL mereka tidak terlalu
jauh berbeda, dan semuanya mempunya F/2.8, dan harganya pun relatif mirip2 sih…
Dan dulu pun waktu saya masih memakai Olympus, saya sangat mengagumi 35-100 F/2.
Tapi – pilihan saya akhirnya jatuh ada Tokina ini, dan mungkin, saya bisa menjelaskan
sedikit kenapa. Dari fisiknya, Tokina terlihat berbeda dari lensa lainnya, dengan body
yang full metal (tidak seperti para kompetitornya), Tokina terlihat begitu well built (atau
orang luar suka bilang – built like a tank), designnya menarik, dan terlihat jelas bukan
lensa sembarangan. Apalagi dengan tambahan adanya window scale (walaupun agak
kecil dibanding beberapa pesaingnya), dan juga gelang emas di ujungnya, menambah ke
istimewaan design tersebut. Adanya tripod collar yang sayangnya tidak bisa dilepas –
menambah rasa kaget (gembira lho) saya, karena biasanya tidak ada lensa dengan ukuran
seperti ini yang mempunyai collar. Walaupun tidak bisa di lepas, tentunya bisa di geser
(putar) supaya lidah untuk dudukan tripodnya tidak menganggu pegangan zoom anda.
Water-Proof coatingnya pada elemen terdepan memberikan perlindungan extra pada lensa
terhadap percikan air dan juga finger print. Saya pribadi tidak tau apakah lensa ini
weather proof, karena setau saya Pentax (modelnya persis sama, hanya beda coating
saja), itu modelnya weatherproof. Focusingnya juga silent dan cukup cepat, walaupun
tidak Supersonic. Sayangnya dia ga dapet case / pouch, padahal lensa2 Tokina yang dulu2
dapet casenya keren2 gitu. Hoodnya juga bagus banget, ada velvet liningnya di dalem
biar ga reflect cahaya (mirip L-series).

Lepas dari fisiknya, hasilnya Tokina (testing aja nih, belum ada hasil yang bagus untuk di
posting), sangat memukau. Ketajaman, saturasi, warna, serta bokeh yang halus sekali,
sangat sangat cocok untuk hobby saya yaitu portraiture. Ketajamannya pun boleh
dibilang diatas rata2. Apalagi bila dibandingkan dengan SiGMA, entah mengapa, lensa
ini jauh lebih tajam, padahal perkiraan saya perbedaan ketajaman hanya akan tipis2 aja.
Tapi ternyata saya salah… Namun, untuk segala hasilnya, ini merupakan lensa yang
sangat teramat memuaskan bagi saya. ïŠ
Price: Rp. 7,100,000. (New, garansi Seasons / JPC).
What you get: Lensa, tutup depan bekalang, dan hood.

Pros:
- Well built, a truly professional lens.
- Water proof coating – rasanya baru Tokina dan Pentax aja nih yang pakai.
- Focal length yang sangat pas bagi saya untuk indoor dan outdoor, sehingga lensa tidak
terlalu besar dan berat.

- Ada tripod collar.
- Lensanya tuajem banget coy.
- Designnya keren banget. :D
- Warna saturasi PF CA Distorsi semua terkontrol dengan baik. Walaupun dari report sana
sini ada bilang di 135mm wide open agak kurang baik dibandingkan dengan FL lainnya,
saya pribadi sih tidak terlalu melihat perbedaannya.

- Focus yang cepat dan tidak berisik.
- Fix stop F/2.8 aperture.
- Ga tau nih weatherproof apa ngga, karena Pentax punya sih weatherproof, berhubung

designnya sama, saya rasa sih iya ya..
- Zoom dan focus ringnya halus dan enak banget di puternya. :D
- Internal focus, dan internal zoom (jadi lensa sama sekali tidak bertambah panjang di
ukuran mana pun).
Cons:

- Harganya males banget deh huhuh. Padahal SiGMA yang 50-150 aja Cuma 5.8jt… dan
dia dapet FL lebih panjang, juga ada pouch dan tetek bengeknya. Tapi ya itu dia, kalah
tajem dan warna juga kalah bagus.
- Collarnya ga bisa di copot, kadang ya ganggu aja rasanya.
- No Supersonic, jadi ga bisa dipakai di D40 dan tidak secepat lensa2 supersonic tentunya

dalam hal focus.
- Ga dapet case / pouch. Huhuhuh.
- No macro capability (bisa sih, tapi 1:5.9 dan harus jarak 1m).
- Min focusing distance 1m, harusnya bisa lebih dekat lagi, mungkin 0.8 gitu.
- Andaikan dia pakai magnesium alloy bodynya, pasti lebih ringan dan lebih kuat!
Hehehe.
- Saya pribadi kurang sih push pull AF/MF switch, karena takutnya kalo lagi hand-held

kepindah ga sengaja. Saya lebih suka tipe switch button aja.
- Cari barangnya ga gampang. :D
Conclusion: Wah - I would highly recommend it. Buat orang yang suka indoor dan
outdoor sekaligus, lensa ini adalah lensa untuk anda. :D


SiGMA Fisheye 8mm F/4: Personal Review
Kebetulan kemarin lensa ini numpang lewat ke saya, jadi saya bisa ada waktu bermain-
main sedikit dengan lensa ini. Walaupun tidak banyak yang dapat saya lakukan
(berhubung sudah malam, dan saya juga ga ngerti mau moto apaan pakai lensa ini), jadi
saya lakukan apapun yang saya bisa - seadanya, untuk melihat fungsi dan kegunaan lensa
ini.

Hal pertama yang saya lihat adalah bentuk lensanya, elemen depannya sangat sangat
menonjol, dan tidak terlindungi (kecuali di tutup), dan sepertinya sangat "gelap" - entah
gelap itu arti yang benar ngga, tapi rasanya beda banget deh dari elemen lensa depan
lainnya.

Ukuran lensanya cukup kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana -mana. Focus cukup
cepat, hasil yang relatif tajam, dan tentunya, SANGAT wide sekali (180 derajat bo!),
artinya: kalau ada cewe cakep yang mau anda foto tanpa ketahuan, lensa ini terpakai
sekali (tapi distorsinya minta ampun - jadi harus pakai software dulu benerin hehe).
Namun bagi anda yang bisa menggunakan lensa ini - hasilnya bisa jadi sangat fantastis
(ada teman yang pernah pakai lensa fisheye - saya di kasih lihat fotonya - wow).

Price: Barunya sekitar 4.9jt, tapi sekarang dah ada generasi baru, dengan F/3.5 sekitar
5.8jt.
What you get: Tutup depan belakang, lensanya, (No hood), tas kecil buat bawa2, dan

sebuah plat perak buat masukin filter di belakang (ga ngerti deh).
Pros:
- VERY WIDE angle, 180 derajat.
- Lensa yang sangat exotis.
- Focus cepat (walaupun tidak HSM), artinya tidak jalan di D40 ya..
- Body yang ringan, dan ringkas.
- Hasil yang diberikan tajam, saturasi bagus, dan anehnya tidak terlalu warm seperti
Sigma pada umumnya (IMHO).
- Bisa moto orang laen tanpa ketahuan (huahahah).

Cons:
- Elemen depan tidak terlindungi (uh oh!).
- Tidak semua orang dapat menggunakannya dengan baik.
- Perlu software third party (Sigma ga sedia pas beli).

- No filter depan.
- Harganya relatif mahal.
- Cat sigma terkenal ngelotok.. wew.
- Bukan lensa yang sering dipakai (kecuali anda memang hobby fish eye).
- No HSM.

Conclusion, great lens, but definitely not an everday usage. Pemakaian harus extra hati
hati, dan tentunya anda harus belajar menggunakannya sebelum dapat menghasilkan
foto2 keren. :D


SiGMA 17-70 F/2.8-4.5: Personal Review.
Lensa ini pernah numpang lewat sebentar hehe, sebelum saya akhirnya ada kebutuhan
jadi tuker2 sama lensa lain deh. :D

Anyway, pertama kali saya mendapatkan lensa ini adalah ukurannya yang kecil, sangat
ringan dan menyenangkan. Dan saya juga senang karena FL nya yang asik (17-70) dan F
yang cukup besar (2.8-4.5). Namun F nya dengan cepat stop down mulai dari 30-70,
sehingga tidak terlalu berasa seperti memakai wide aperture lens (udah masuk 4.5
soalnya). Sebenarnya sih 17-70 adalah satu2nya lensa dengan FL segitu dengan harga
yang murah dan aperture yang cukup besar. Tapi kalau dipikirkan lagi dan dibandingkan
dengan Nikkor 18-70... agak sayang (walaupun bedanya ga terlalu banyak di harga).

Anyway, lensa ini tidak kelihatan berkelas ataupun lensa mahal, dan kelengkapan lensa
ini juga standar aja. Tidak ada window scale, tidak ada yang keren2nya deh. Bener2
kayak lensa murah. Tapi lensa ini memang tajam dan juga TONE nya tidak "se-warm"
SigMA seperti biasanya (ga tau kenapa - mungkin beda di coating saya ga tau), dan saya
rasa lensa over-all day to day yang sangat baik dan cukup menyenangkan dipakai di
lowlight sekalipun.
Harga: 2.7-2.9jt. (Lupa harga barunya, itu harga second).

What you get: Lensa, lens cap depan belakang, hood, dan pouch.
Pros:
- Sangat ringan dan kecil ukurannya sehingga mudah dibawa.
- Tidak terlalu WARM seperti SiGMA pada umumnya.
- Kayaknya satu2nya 17-70 dengan aperture terbesar saat ini (walaupun bukan 2.8 fix).
- Hasilnya tajam, PF dan CA cukup baik.
- FL nya bagus tuh-kepakai untuk semua kegiatan. :D
- IF kalo ga salah, jadi ga usang pusing kalau pake CPL.
Cons:
- Modelnya juelek.
- F nya sayangnya tidak 2.8 fix.
- Tidak terlihat mahal.
- No HSM, sehingga agak berisik.
- Focusnya agak lama dibandingkan lensa2 sekelasnya.
- PF nya kalau di extreme light kelihatan cukup jelas.
- Distorsi cukup jelas di wide-end, yah biasa sih di lensa beginian.
- Harganya agak mahal, mendingan beli 24-70/2.8 dan 18-55 kit, dan anda masih ada

kemungkinan dapet kembalian kalau beli bekas. Paling ngga habisnya sama. :D
- Uhm... saya pribadi kurang suka modelnya SiGMA juga heheh. :D
- No macro capability kalo ga salah.
Conclusion, great lens, but I would prefer something else. Tapi kalau anda mau an all-
round good lowlight performer dengan FL yang asik dan hasil yang cukup bagus, this is your lens. But, kalau ga masalah repot2 ganti2 lensa, saya sih mendingan beli 24-70 dan lensa kit (24-70nya yang non-macro aja gapapa. :D).


Nikkor 50mm F/1.4D: Personal Review.
Yup, ini adalah salah satu lensa yang juga sangat digemari berbagai kelangan. Tentunya
lensa ini sangat berguna untuk portraiture. Dengan DOF yang tipis, F yang besar, dan juga jarak yang saya rasa pas, membuat lensa tersebut sangat cocok untuk foto portrait indoor ataupun outdoor.

Build lensa tersebut pun sangat apik, dengan window scale nya dan juga matt finish,
lensa tersebut walaupun kecil namun terlihat classy dan tidak murahan. Lensa tersebut
juga sangat ringan dan cukup kecil untuk selalu dibawa dalam tas atau perlengkapan
anda.

Satu hal yang saya pribadi kurang suka dari lensa tersebut adalah aperture blade nya yang
"hanya" 7, yang berarti bokeh kurang "bulet" dan kurang "creamy", dan dengan harga
yang lebih dari 2x lipat dari 50/1.8, penambahan aperture blade ini seharusnya ada
(50/1.8 juga hanya ada 7 blade saja). Atau setidaknya blade tersebut dibuat lebih
"rounded", namun ternyata tidak - sama saja - satu hal yang sangat di sayangkan (bagi
saya).

Price: Sekitar Rp. 1,900,000 - 2,300,000 (Second, tergantung garansi dan kelengkapan,
harga barunya saya lupa).
What you get: Lens cap depan belakang dan lensanya sendiri.
Pros:
- Very sharp, walaupun di wide open (tapi tetap lebih sharp kalo di stop down), dan
hasilnya kalau di stop down ke 1.8 dan di bandingkan dengan 50/1.8 tetep masih bagusan

50/1.4 donks. :)
- Ringan dan kecil, mudah di bawa bawa.
- DOF yang tipis, bagus untuk "menghancurkan" background yang mengganggu.
- Aperture yang besar, baik untuk indoor dan lowlight.
- Ada window scale nya lho! :)
- Segala contrast, PF dan CA cukup baik, tapi seperti semua kasus large aperture lens,
akan lebih baik bila di stop down.
- FL 50mm sangat berguna dan sangat cocok untuk portraiture hampir di segala situasi.
Cons:
- Blade hanya 7! I hate it.
- Gak SWM - jadi agak berisik, padahal dengan harga segitu harusnya udah SWM donk,

competitornya aja udah dan KIT 18-55 nya aja udah SWM.
- Tidak dapat hood, again, dengan harga segitu masa hood aja harus beli terpisah?
- No MF/AF switch.
- Bagi saya tidak terlalu berbeda dengan 50/1.8 yang notabene harganya 1/2 nya lho!

Conclusion, saya rasa lensa ini adalah lensa yang sangat baik sekali. Dari segi aperture
dan hasil, lensa ini tentu tidak mengecewakan. Namun yang mengecewakan bagi saya
adalah kenyataan pada aperture blade yang hanya berjumlah 7 buah dan kelengkapan
yang minim, dengan harga seperti itu, rasanya "mahal". Saya lebih prefer beli 50/1.8 any
time, dibandingkan dengan 50/1.4. Kalaupun mau beli yang lebih bagus daripada 50/1.8,
saya lebih prefer langsung loncat ke 85/1.8 yang hasilnya jauh lebih signifikan.


Nikkor 28-85 F/3.5-4.5 AF Non-D: Personal Review.

Sebenarnya saya tertarik dengan lensa ini karena saya memang mencari sebuah lensa
yang rangenya cocok untuk portraiture atau liputan dengan harga ekonomis. Sebenarnya
18-70 cukup menarik – tapi kurang “reach” nya pas di 70. Kepikiran punya 24-85 ED DX
versi yang lebih baru – tapi harganya jauh lebih mahal. Jadi akhirnya saya searching di
web – dan saya melihat di sebuah website sebuah review mengenai lensa ini.

Pertamanya sih saya agak ragu – karena lensa ini sudah berumur 10 tahun lebih tuh –
sekarang sudah lebih bagus lagi seharusnya teknologinya, tapi reviewnya beneran sangat
baik sekali – bahkan dikatakan lebih baik dari hampir berbagai macam zoom yang
tersedia oleh Nikkor dalam harga yang kurang lebih setara.

Kebetulan banget pas saya buka di bursa forum jual beli – eh ada yang jual dengan
kondisi yang benar2 seperti baru! WOW – lensa yang umurnya hampir setengahnya saya,
bisa dalam kondisi hampir baru (mint), jarang banget. Apalagi harganya lebih murah
dibandingkan dengan kompetitornya. Jadi akhirnya saya beli deh …
Setelah saya beli dan lihat fisiknya, lensa ini rasanya mantab banget, buildnya kokoh, dan ada window scalingnya (sesuatu yang jarang saat ini). Mountnya juga masih metal – dan bisa macro pula! Terdapat putaran tombol macro – perbandingannya saya ga tau 1:1 atau 1:2, at least bisa macro sudah berarti lensa ini tajamnya gak main-main deh hehe. Tapi – setelah saya coba, ternyata benar2 tajam banget, melebihi perkiraan saya sebelumnya.
Walaupun di posisi yang cukup jauh, detail gambar tetap bisa terlihat dengan baik di hasil
fotonya. Saya benar2 puas sekali dengan lensa ini.
Harga: Rp. 1,500,000 – Rp 1,900,000 (Tergantung kondisi).

What you get: Yah namanya juga lensa second – at least dapet lensanya lah heheh.
Pros:
- Great build quality, beratnya mantep dan tidak terasa timpang saat dipasangkan di

kamera.
- Harga yang relatif murah bila dibandingkan dengan lensa sekelasnya.
- Ada window scalingnya loh!
- Tajamnya rrruuuarrr biasaaa...
- Bisa macro (walaupun hanya bisa manual focus).
- Ada aperture ringnya.
- Distorsi, CA, PF yang cukup rendah. Dan hampir no vignett (at least mata telanjang ga

bisa lihat lah).
- F stop yang cukup baik mengingat harga dan range yang ditawarkan.
- Design yang menurut saya keren.
Cons:
- Rotating front filter thread - so no CPL happy.
- Susah nyari yang kondisinya bagus.
- Yang nyari kondisi nya jelek juga ga gampang.
- Non - D (Ga epek bagi saya).
- Andaikan saja dia 2.8-4 huahahaha.
- Sayang Macro nya tidak bisa AF.
- Range foto yang cukup jauh 0.8m min. distancenya.
- Kalo dibandingkan dengan 24-85 - kalah di wide endnya yang lebih lebar.
- Kalo pake hood HB-32 kayaknya vignett deh - harus cari hoodnya sendiri yang tentunya
dijual terpisah.

Conclusion - I am very happy with this lens, dan saya rasanya mau jual juga sayang.
Tentu tidak bisa menyaingi hasil daripada lensa Nikkor dengan range yang sama dengan
F/2.8. Untuk DOF juga kalah tipis bila dibandingkan dengan Tamron dan SiGMA pada
range yang sama - tapi - ketajamannya boleh nyaingin dan bahkan saya percaya lebih
tajam (berhubung lensa Nikkor terkenal ketajamnya).
Anyway - bila anda perlu review lebih lanjut - ini adalah salah satu lensa favorit
Kenrockwell dan akan ada pembahasan yang lebih lanjut disana.


Nikkor 18-55 ED DX II: Personal Review.
Sebuah lensa yang sangat menarik untuk di miliki, lensa ini walaupun hanyalah sebuah
lensa KIT, namun anda bisa cukup bahagia dengan hasilnya yang diberikan. :).

Lensa ini sangat baik, focal length yang standar, vignett dan distorsi yang cukup baik,
dengan build quality yang oke walaupun terkesan plastik banget, namun dengan
tambahan cincin silver di depan, menambah kesan "expensive" pada lensa tersebut.
Lensanya sangat ringan, kecil, dan compact sekali. A great day to day lens.

Harga pasaran: Sekarang sih udah cukup murah lho! Rp. 845,000 (Di forum banyak yang
jual harga segitu, garansi ALTA 1 + 1).
What you get: Lensanya, lens cap depan dan belakang, dan tergantung copotan atau
bukan, anda bisa dapat dus dan bisa tidak dapat.

Langsung kita ke pros and cons:
Pros:
- Lensanya sangat compact dan ringan dengan build quality yang sangat baik untuk
kelasnya. :). Sangat nyaman dibawa sehari hari.
- Ketajaman lensa ini cukup mengejutkan, lebih tajam dari Nikkor 18-70 (bagi saya), dan
pada focal length yang sama dengan aperture yang sama - bisa menyaingi Nikkor 50/1.8

lho!!
- Sudah ada SWD - fast focus and silent.
- Very cheap price for a great quality lens!
- Vignett dan distorsi cukup terkontrol dengan baik - mungkin karena adanya elemen


lensa mahal ED glass. :)
- Adanya switch manual / AF di body - memudahankan perpindahan cara fokus.
- Build quality - walaupun full plastik - sangat kokoh dan tidak ada kerengangan ataupun

bagian yang kendur.
Cons:
- Rotating front element, terutama bagi mereka yang ingin lebih serius menggunakan
lensa ini dengan CPL dll. Bagi saya sih no problem karena yang saya pasangkan hanya
UV saja hehehe.

- Plastic Mounting - bagi saya ini sebenarnya bukan Cons, tapi pasti banyak yang tidak
setuju. Sebenarnya plastik mount itu sangat banyak keuntungannya - lensa menjadi lebih
ringan, harga lebih murah, dan tidak merusak dudukan lensa di body karena gesekan
antar metal. Kalau di tinjau kembali - lensa dengan metal mounting juga mountingnya
nempel di body lensa yang kebanyakan plastik - kalau mau patah ya patah aja hehe.
- SWD bisa berisik kalau kemasukan debu terlalu banyak - akhirnya bunyi krinyit, saya
lebih suka suara AF yang dulu -ZZ ZZZTTTT!! Hehehehe.
- Tidak dapat hood waktu beli jadi harus beli hood lagi deh (hood yang saya foto adalah
hood 3rd party merek JENIS).
- F stop yang standar - don't expect miracles in low light - siap2 ISO tinggi dan flash ya...

Overall, I find this lens a MUST HAVE LHO! Murah - ringan - hasil yang sangat
mengagumkan (untuk standarnya), saya rasa tidak ada alasan untuk tidak memilikinya -
kecuali anda sudah mempunyai lensa dengan FL yang sama / mirip.
Purple

Teknik Dasar Fotografi


Teknik-teknik dasar pemotretan adalah suatu hal yang harus dikuasai agar dapat menghasilkan foto yang baik. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang dapat dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat.

A. FOKUS
Focusing ialah kegiatan mengatur ketajaman objek foto, dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa sehingga terlihat pada jendela bidik objek yang semula kurang jelas menjadi jelas (fokus). Foto dikatakan fokus bila objek terlihat tajam/jelas dan memiliki garis-garis yang tegas (tidak kabur). Pada ring fokus, terdapat angka-angka yang menunjukkan jarak (dalam meter atau feet) objek dengan lensa.

B. EKSPOSURE
Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada dikamera. Dalam hal ini, cahaya yang diterima objek harus cukup sehingga dapat terekam dalam film. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan film (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan film yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke film sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed).

C.Bukaan Diafragma (apperture)
Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka ini tertera pada lensa : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk.

Hubungan antara angka dengan bukaan diafragma ialah berbanding terbalik.
"Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak."

Kecepatan Rana (shutter speed)
Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai film. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang film dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang film dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana aka membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari film.
Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B. .Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. B (Bulb) berarti kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan)

Hubungan antara angka dengan kecepatan rana membuka menutup ialah berbanding lurus. "Semakin besar angkanya berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin kecil angkanya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, maka semakin banyak cahaya yang masuk"

Kepekaan Film (ISO)
Makin kecil satuan film (semakin rendah ISO), maka film kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka film semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut. Misal, ASA 100 lebih banyak membutuhkan cahaya daripada ASA 400.

Pengertian Fotografi

Menurut saya, musti dikembalikan ke arti sebenarnya dari fotografi itu sendiri....
Dari beberapa literatur yang saya dapat, pengertian fotografi adalah melukis dengan cahaya.

Kalau USG sendiri sangat berbeda sekali prinsip kerjanya, karena USG sendiri singkatannya adalah Ultra Sono Graphy. Prinsip kerjanya menggunakan Gelombang Ultrasonik yang dibangkitkan oleh kristal yang diberikan gelombang listrik.
Gelombang ultrasonik adalah gelombang suara yang melampaui batas pendengaran manusia yaitu diatas 20 kHz atau 20.000 Hz atau 20.000 getaran perdetik.
Kristal nya bisa terbuat dari berbagai macam, salah satunya adalah Quartz. Sifat kristal semacam ini, akan memberikan getaran jika diberikan gelombang listrik.

Alat ultrasonik sendiri ada berbagai tipe. Ada Tipe Scan A, B dan C.
Yang biasa untuk mendeteksi crack pada baja adalah tipe A.
Prinsip kerjanya mudah sekali. Tinggal menggunakan sensor ultrasonik untuk menngirimkan gelombang ultrasonik dan menangkapnya kembali. Kebetulan saya membuat alat ini waktu bikin skripsi.

Yang tipe C dapat menampilkan Citra 3 Dimensi dengan cara menangkap pantulan-pantulan yang berbeda dari tebal tipisnya benda dalam suatu cairan. Karena ada berbagai macam gelombang ultrasonik yang dipantulkan dalam waktu yang berbeda, gelombang-gelombang ini lalu diterjemahkan oleh prosesor untuk dirubah menjadi gambar.

Jadi USG menampilkan citra dari suara yang ditangkap, sedangkan pengertian fotografi adalah melukis dengan cahaya.

Jadi mungkin untuk saat ini hasil dari USG belum termasuk dalam karya fotografi. Berbeda dengan Scanner dan kamera lubang jarum yang masih "melukis dengan cahaya".



Hi...Sobat Cintia..silahkan Komentarnya yah...^_^